Mendongeng, ‘tuk berpijak di anak tangga yang sama….

By Nuruliawati

Desa Pemerihan merupakan salah satu desa yang terletak di tepi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Lokasinya yang dekat dengan pesisir, menjadikan cuaca panas di desa tersebut pada siang hari cukup menyengat. Meski demikian, hal tersebut tidak mengalahkan semangat kami untuk berbagi. Sabtu, 14 Maret 2015, merupakan hari yang ditunggu bagi kami. Berawal dari sebuah program “Drop your book for Pemerihan kids” yang digalang oleh Pusat Riset Perubahan Iklim (RCCC UI), kami berinisiatif untuk mengumpulkan buku-buku layak baca yang akan disumbangkan untuk murid-murid sekolah dasar di desa tersebut. Mulai dari buku yang bermuatan sains, teknologi, hingga buku cerita sederhana. Alhamdulillah, masih banyak teman-teman kami yang ingin berbagi dengan anak-anak di desa ini.

Bisa dibilang, kami harus banyak bersyukur karena dianugrahi kondisi kehidupan yang lebih baik, terutama dari sisi pendidikan. Tinggal di ibukota tentunya berbeda dengan di Desa Pemerihan. Gedung sekolah yang bertingkat yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas mulai dari lapangan upacara yang sudah disemen hingga sentuhan teknologi berupa lab komputer lengkap dengan koneksi internet nya. Hal tersebut sangat kontras dengan keadaan di desa ini. Anak-anak di desa ini masih akan tetap tersenyum dan semangat untuk bersekolah meski kondisi bangunan tempat mereka bersekolah termasuk tidak layak huni dan perlu perbaikan segera.

 

Landscape sekolahGambar 1. Landskap sekolah SD N 1 Pemerihan, Lampung Barat

Belajar di bawah naungan atap yang berlubang serta ruangan tanpa pintu? Ah, itu biasa bagi mereka, anak-anak SDN 1 Pemerihan. Sudah bertahun-tahun mereka menjalani kehidupan masa sekolah dengan keadaan seperti ini. Meski dengan rasa khawatir bangunan sekolah akan roboh jikalau hujan datang disertai dengan angin kencang. Berkali-kali berganti kepala sekolah, kondisinya pun masih tetap sama. Bahkan untuk kursi tempat mereka duduk saat mendengarkan penjelasan dari guru, tidak didapatkan dari dana pemerintah, melainkan dari iuran para wali murid. Entah di mana uluran tangan pemerintah hingga masih banyak kondisi sekolah seperti ini di Indonesia.

DSC_0182Gambar 2. Bangunan yang sudah tidak layak huni

Sabtu pagi, kami sangat bersemangat untuk membagikan “jendela-jendela dunia” yang datang dari kota. Sekitar lebih dari 50 buku dengan ragam cerita di dalamnya kami sajikan di atas meja kayu. Ada kelompok yang bersigap, ada kelompok yang terkesan adem ayem. Kelompok yang sigap dengan sergap nan lahap menyantap buku-buku yang bertebaran di atas meja. Mulai dari majalah bergambar hingga buku tentang sains. Mulut-mulut kecil mereka mulai bergumam satu persatu, berusaha melafalkan kalimat-kalimat yang tersanding di depan mata dengan penuh semangat. Berbeda jenis kelamin, berbeda pilihan. Anak laki-laki memilih majalah yang bertemakan super hero ataupun cerita-cerita rakyat, sedangkan anak perempuan lebih memilih majalah bergambar karakter putri kerajaan yang tersohor, sebut saja Disney Princess. Mereka berebut satu majalah yang memang hanya menyajikan karakter tersebut di sampul depannya sambil bergumam “Aku mau jadi princess Cinderella. Aku mau jadi Aurora”. Kelompok yang gemar membaca tersebut menyisihkan pertanyaan tersendiri bagi kami.

DSC_0278Gambar 3. Salah seorang murid yang sedang asyik membaca buku

Adapun kelompok yang terkesan adem ayem,  meminta untuk dibacakan suatu cerita. Saat itu lah, saya turun tangan untuk menjadi seorang pendongeng. Saya membacakan sebuah buku yang berjudul Triceratops, sebuah kisah tentang dinosaurus bertanduk. Anak-anak tersebut sangat antusias mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut saya hingga berkhayal sembari membayangkan sekelompok Triceratops yang beristirahat di halaman sekolah mereka. Sangat menyenangkan!

P1200121Gambar 4. Mendongeng tentang Triceratops

Selesai dengan Triceratops tersebut, mereka meminta untuk dibacakan buku kembali oleh saya. Kali ini mengenai Candi Borobudur. Seperti yang kita tahu bahwa Candi Borobudur merupakan salah satu candi yang tersohor di penjuru dunia. Candi yang terletak di Magelang ini sudah popular di kalangan wisatawan, baik lokal maupun asing, namun tidak di telinga mereka. Mereka baru saja mendengar hal tersebut saat itu. Lantaran terkejut, saya pun menghibur mereka dengan menyemangati mereka untuk berjalan-jalan ke sana suatu hari nanti.

Akan tetapi, mereka lebih memilih untuk tidak pergi, dan tetap di sini untuk sekedar bermain dan mengurus kebun. Dari hal itu, saya merasa tergelitik untuk bertanya “Adik-adik kalau sudah besar memangnya mau jadi apa?”. Pertanyaan itu dijawab satu persatu oleh mereka. Ada yang mau menjadi tentara, ada yang mau menjadi polisi, ada yang mau menjadi guru. Akan tetapi, 90% dari mereka menyatakan tidak tahu mau menjadi apa. Saat saya tanya kembali “Ada yang mau jadi dokter kah? Jadi pilot?”. Semangat mereka menurun saat saya bertanya hal demikian. Seorang anak yang berani, berkata “wes neng kene wae lah mbak, ngangon kebon”, dalam artian “disini saja lah mbak, ngurus kebun”.

Saya tergelitik miris. Saat saya bercerita kepada tim, beberapa dari kami beranggapan bahwa mereka masih malu untuk bermimpi. Mereka masih beranggapan bahwa kami dari desa dan kami tidak berhak untuk menjadi seseorang yang hebat. Jangankan untuk bermimpi menjadi sosok hebat, untuk bermimpi pergi ke kota saja mereka malu. Berkunjung ke museum atau ke Candi Borobudur saja mereka tidak bersemangat. Mereka butuh sosok panutan yang bisa untuk mengajak mereka bermimpi lebih. Orang yang bersemangat untuk membagi cerita apa yang telah ditekuni selama ini dengan hati. Satu kata: komunikasi. Mereka butuh jembatan komunikasi untuk menemukan sosok yang dapat menjadi panutan mereka untuk bermimpi.

DSC_0325Gambar 5. Aku dan Nova, salah satu murid SDN 1 Pemerihan

Melalui kegiatan seperti ini lah kami berbagi. Saling memotivasi agar terbentuk satu jembatan menuju mimpi. Karena kalau bukan mereka, siapa lagi? Sosok generasi yang wajib diselamatkan dari ketertinggalan. Generasi yang wajib menjadi lebih baik dibandingkan generasi pendahulu. Generasi yang mungkin bisa menyelamatkan sekolah mereka sendiri dari ancaman rubuh akibat kondisi alam. Agar generasi selanjutnya dapat bersekolah dengan layak, dan menjadi lebih baik lagi dari mereka. Satu langkah kecil ini mungkin tidak bisa mengubah hidup mereka secara langsung, namun semoga langkah itu berarti sebagai sebuah manfaat yang berbuah manis.

DSC_0315Gambar 6. Anak-anak SDN 1 Pemerihan dan tim

“Bahagia itu beragam versinya. Namun mengapa tidak jika kebahagiaan itu kita bagi menjadi sama rasa? Antara aku, kamu dan bocah-bocah Pemerihan, sehingga kaki-kaki kecil mereka pun bisa berpijak di anak tangga yang sama”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s