Jasa Ekosistem di Ruang Terbuka Hijau

Saat ini, populasi manusia di seluruh dunia sudah mencapai 7,1 miliar orang dan lebih dari setengahnya tinggal di kota (UN DESA 2011). Untuk mencukupi kebutuhan para penduduknya, kota menjadi sangat padat dan penuh polusi. Jutaan manusia di kota saling berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan: waktu, tempat, uang, makanan, tentunya juga udara bersih dan air.

Padatnya kota Jakarta (Sumber gambar: http://goo.gl/pyMzaJ)
Padatnya kota Jakarta (Sumber gambar: http://goo.gl/pyMzaJ)

Semakin padatnya aktivitas dan kebutuhan penduduk di kota, semakin tinggi nilai sebuah tempat dan oleh karena itulah, keberadaan zona hijau di dalamnya pun semakin terdesak. Banyak zona hijau yang dikorbankan demi pembangunan jalan, gedung, dan sebagainya. Padahal keberadaan hutan kota sangat penting untuk menunjang kebutuhan utama para penduduk, yaitu udara yang bersih dan air. Tapi apakah hanya itu yang akan kita dapatkan? Mari kita lihat, apa saja sih yang jasa ekosistem yang bisa diberikan oleh hutan kota?

Penyaringan udara
Polusi udara dari transportasi dan gedung, telah menjadi permasalahan lingkungan dan kesehatan di perkotaan. Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, vegetasi mampu menangkap partikel dan menyerap gas penyebab polusi udara, seperti CO2, SO2, NO2, dan sebaginya, terutama bila luas wilayah daunnya lebih banyak (pohon lebat dan banyak). Penyerapan CO2 oleh tumbuhan, tentunya juga mampu mengurangi efek perubahan iklim. Berdasarkan hasil penelitian, taman atau hutan kota, bisa menyaring 85% partikel penyebab polusi dan pohon besar di pinggir jalan bisa mengurangi 2/3 polusi yang ada. Coba bayangkan kalau tidak ada pohon sama sekali di jalan raya, polusi nya seperti apa teman-teman? Seperti di jalan Margonda, Depok.

Regulasi iklim mikro
Iklim mikro contohnya apa sih? Contohnya adalah suhu, kelembaban, dan angin. Suhu di kota sangat tinggi, misalnya rata-rata suhu Jakarta tahun 2011 mencapai 28,5 oC, padahal tahun 2000 hanya 24 oC (BPS 2012) loh.. Ini bisa terjadi akibat tingginya energi yang dipakai di kota dan kurangnya zona hijau.

Semua ekosistem natural di daerah urban atau perkotaan bisa mengurangi suhu tersebut. Misalnya area air seperti waduk, danau, atau kolam, dapat mengurangi suhu udara di sekitarnya. Vegetasi juga penting! Satu pohon besar dapat menguapkan 450 L air per hari! Ini setara dengan menyerap panas dalam jumlah sangat banyak! Juga, vegetasi bisa digunakan untuk menaungi bangunan sehingga terik matahari bisa diserap langsung oleh pohon dan mengurangi suhu bangunan. Saya rasa, ini sering kita rasakan dampaknya setiap kita sedang berjalan kaki siang hari di kota-kota besar.

Menghemat energi
Oleh karena vegetasi dapat mengurangi suhu maka vegetasi juga dapat mengurangi energi yang dipakai oleh gedung. Peningkatan tutupan pohon sebanyak 10%, dapat mengurangi total pemanasan dan energi yang digunakan untuk menyalakan pendingin ruangan sebesar 5-10% (Nowak, McPherson dan Rowntree 1994). Win win solution!

Untuk menyiasati tempat yang sempit, kita bisa coba buat vertical garden macam ini. (sumber gambar: http://goo.gl/mas9zp)
Untuk menyiasati tempat yang sempit, kita bisa coba buat vertical garden macam ini. (sumber gambar: http://goo.gl/mas9zp)

Mengurangi bising
Bising akibat pembangunan dan transportasi suka bikin kita pusing dan meningkatkan stres. Mari kita lihat, sebising apakah kota besar di Jakarta? Berdasarkan penelitian Hendro (2004), tingkat kebisingan di perumahan di Jakarta Barat tahun 2003 mencapai 69, 64 bB dan di Tanggerang 63,59 dB. Padahal menurut Keputusan MenLH No. 48 Tahun 1996, batas kebisingan tertinggi di perumahan, hanya sebesar 55 dB (Setiawan 2010) . Berbeda jauh sekali bukan?

Vegetasi dapat membantu mengurangi tingkat kebisingan ini, karena vegetasi rapat sepanjang 100 m dapat mengurangi kebisingan sekitar 1-2 dB. Walau sedikit tapi mereka berpartisipasi dalam menguranginya, kita?

Penyerapan air hujan
Semakin banyak kita membangun infrastruktur, semakin banyak lahan yang kita tutupi dengan bahan tak tembus air, aspal atau semen misalnya. Curah hujan yang tinggi dan tingkat serapan air yang rendah menghasilan banyaknya genangan air yang ada dan bisa menyebabkan banjir. Vegetasi dapat berkontribusi menyelesaikan permasalahan ini dengan berbagai cara. Zona hijau dapat menyerap air tersebut. Perbandingannya begini, daerah yang bervegetasi hanya menyisakan air 5 – 15% air, sedangkan di tempat yang tidak ada vegetasi, air masih tersisa 60% nya! Dalam hal ini, vegetasi atau pohon, bukan hanya mempengaruhi iklim mikro di atas tanah, tapi juga di dalam tanah! Cool!

Nilai sosial dan rekreasi
Kota adalah tempat yang penuh tekanan bagi warganya. Oleh karena itu, warga kota sangat membtuhkan tempat bermain dan beristirahat yang menyegarkan. Tempat rekreasi yang murah, mudah dijangkau, dan indah seharusnya bsa didapatkan di taman atau hutan kota. Suara-suara angin, ikan, kicauan burung, tentunya dapat mengurangi ketegangan kita menghadapi kota, ini sudah dibuktikan secara ilmiah lho! 🙂

Salah satu taman di Jakarta yang menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas. (sumber gambar: http://goo.gl/w5g8p8)
Salah satu taman di Jakarta yang menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas. (sumber gambar: http://goo.gl/w5g8p8)

Jadi, apa jadinya kita tanpa zona hijau? Tanpa taman atau hutan kota?

Bibliography
Bolund, Per, and Sven Hunhammar. 1999. “Ecosystem Services in Urban Areas.” Ecological Economics (29): 293-301.

BPS. 2012. Suhu Minimum, Rata-Rata, dan Maksimum di Stasiun Pengamatan BMKG (oC), 2000-2011. Accessed September 23, 2014. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=151&notab=1.

Jim, C.Y, and Wendy Y. Chen. 2009. “Ecosystem Services and Valuation of Urban Forest in China.” Elsevier Ltd. 187-194.

Nowak, David J., E.G. McPherson, and Rowan A. Rowntree. 1994. “Chicago’s Urban Forest Ecosystem: Result of the

Chicago Urban Forest Climate Project.” USDA Forest Service Gen. Tech. Rep. NE-186 iii-vi.

Setiawan, Moch Fathoni. 2010. “Tingkat Kebisingan pada Perumahan di Perkotaan.” Teknik Sipil & Perencanaan XII (2): 191-200.

UN DESA. 2011. World Urbanization Prospects, the 2011 Revision. UN Report, New York: UN DESA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s