Pembayaran Jasa Ekosistem

Jasa ekosistem sangat bermanfaat bagi umat manusia, seperti udara segar yang kita hirup, ketersediaan makanan dan air, pemandangan yang indah, dan lain sebagainya. Sayangnya saat ini jasa ekosistem sering diabaikan, mayoritas ekosistem dunia rusak tak terkendali, serta berubah fungsi. Hal ini disebabkan karena nilai ekonomi jasa ekosistem belum terukur, sedangkan pengambilan kebijakan lebih fokus pada keuntungan nilai ekonomi dan finansial yang akan didapatkan. Padahal intervensi ekonomi dan finansial dapat menjadi instrumen yang kuat dalam mengatur penggunaan sumber daya alam maupun jasa lingkungan, hingga mencapai sebuah keberlanjutan.

salah satu contoh jasa ekosistem yang belum terhitung nilainya
kupu-kupu sebagai penyerbuk bunga, salah satu contoh jasa ekosistem yang belum terhitung nilainya

Salah satu mekanisme yang dicanangkan dalam menjembatani celah ini adalah mekanisme Pembayaran Jasa Ekosistem.

Apakah yang dimaksud dengan Pembayaran Jasa Ekosistem?

Pembayaran Jasa Ekosistem (Payment for Ecosystem Services – PES) adalah sebuah mekanisme pembayaran jasa ekosistem, dimana suatu pihak yang mendapatkan keuntungan langsung dari jasa ekosistem membayar kepada pemilik dan pengguna lahan, sebagai insentif karena telah menjaga konservasi ekosistem dan restorasi. Mekanisme pembayaran ini merupakan gerakan sukarela, yang dapat dinegosiasikan para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, pendekatannya bukan berupa perintah dan kontrol, melainkan berupa kerjasama sesuai kesepakatan.

Jasa lingkungan yang dibayarkan pun harus terukur dengan jelas, misalnya berapa banyak karbon yang dapat diserap, berapa luas hutan yang dijaga untuk menjaga ketersediaan air, dan sebagainya.  Berdasarkan analisis Millenium Ecosystem Assessment pada tahun 2005, jasa ekosistem dapat mencakup hal-hal berikut ini:

  1. Penyediaan, seperti makanan, air, kayu, obat-obatan, dan sebagainya
  2. Regulasi, seperti iklim, mengendalikan banjir dan persebaran penyakit, pembuangan, serta kualitas air
  3. Jasa budaya, seperti rekreasi, nilai estitika, pemenuhan spiritual
  4. Jasa pendukung, seperti fotosintesis, siklus nutrisi, dan pembentukan tanah

Hal-hal tersebut dapat dimasukkan dalam mekanisme PES, sesuai dengan kondisi yang ada serta kesepakatan yang akan dijalankan. Kesepakatan antara pemilik lahan dengan pembeli jasa tersebut, dapat dihubungkan dengan pihak ketiga, misalnya LSM atau institusi pemerintah.

Bagaimana PES dapat dijalankan?

Skema PES yang berjalan harus menguntungkan bagi penjual maupun pembeli. Bagi penjual, arti menguntungkan adalah biaya yang ia dapatkan dari mekanisme ini minimal sama besar dengan pengorbanan yang sudah dia lakukan. Misalnya, untuk menjaga ketersediaan air, ia harus membuat embung penyimpanan air di dekat rumahnya maka biaya yang ia dapatkan dari skema PES minimal harus sama dengan biaya pembuatan embung ditambah biaya kemungkian pendapatan bila daerah tersebut dijadikan pertanian. Bagi pembeli, arti menguntungkan adalah bila biaya yang ia keluarkan untuk skema PES lebih sedikit dibandingkan bila ia harus membuat infrastruktur yang dibutuhkan. Misalnya adalah, lebih murah membayar pemilik lahan untuk meningkatkan manajemen kawasan penyerapan air, dibandingkan bila harus membuat penyaringan air.

Manajemen lahan untuk produksi agrikultur dibandingkan dengan untuk menyediakan berbagai keuntungan bagi ekosistem melalui mekanisme PES (Department for Environment Food & Rural Affairs, 2013)
Manajemen lahan untuk produksi agrikultur dibandingkan dengan untuk menyediakan berbagai keuntungan bagi ekosistem melalui mekanisme PES (Department for Environment Food & Rural Affairs, 2013)

Dalam skema PES, setidaknya terdapat ada 4 kelompok utama yang sangat berperan, antara lain:

  1. Pembeli : pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari jasa ekosistem yang berkeinginan untuk membayar agar kawasan tersebut terjaga, dikonservasi, atau direstorasi.
  2. Penjual : pemilik lahan yang memiliki peran penting dalam menjaga agar ekosistem tetap terjaga
  3. Pihak penghubung : pihak-pihak yang bisa menghubungkan antara pembeli dan penjual, serta membantu membuat skema kerjasama dan implementasi
  4. Pihak ahli : pihak yang ahli dalam manajemen sumber dalam, valuasi ekosistem, perencana tata guna lahan, penasihat hukum serta bisnis, dan sebagainya

Adakah contoh mekanisme PES yang sudah berjalan?

Mekanisme PES pernah dijalankan pada tahun 1996 di Costa Rica, berupa sistem nasional yang membujuk para pemilik tanah untuk menyediakan jasa ekosistem. Di bawah mekanisme ini, pihak ketiga (penghubung antara pemilik lahan dengan pembeli jasa) bekerjasama dengan dunia internasional serta pasar domestik agar membeli jasa ekosistem yang diupayakan pemilik tanah. Pemilik tanah akan mengupayakan jasa ekosistem misalnya berupa penyerapan karbon, menjaga biodiversitas, atau perlindungan daerah aliran sungai. Hingga tahun 2001, sebanyak 280,000 hektar hutan telah masuk ke dalam mekanisme ini dan menghasilkan uang sebesar 30 juta dolar.

Selain di Costa Rica, mekanisme PES juga telah dilakukan di Amerika Serikat, Vietnam, Bolivia, dan Inggris. Di Inggris, salah satu contoh projek PES dikerjakan oleh SCaMP (Sustainable Catchment Management Programme). SCaMP adalah sejumlah inisiatif untuk memberikan dana bagi aktifitas konservasi di 20,000 hektar lahan penyerapan air di daerah timur laut di Inggris. Inisiatif ini juga bertujuan untuk menjaga jasa ekosistem seperti kualitas air dan konservasi, serta bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk di antaranya adalah petani lokal.

Di Indonesia sendiri projek PES sudah dilakukan di daerah aliran sungai Cidanau, Jawa Barat. DAS Cidanau menyediakan air bagi masyarakat dan industri di Provinsi Banten. Untuk mengurangi kerusakan lingkungan dari hulu ke hilir, Forum Komunikasi DAS Cidanau difasilitasi oleh LSM dan LP3ES, menghitung nilai dan jumlah jasa ekosistem di DAS Cidanau. Nilai tersebut kemudian dibayar oleh Krakatau Tirta Industry (KTI), karena industri baja tersebut mendapatkan autorisasi manajemen air dari DAS.

proyek PES di Cidanau. (sumber gambar: http://goo.gl/x3HcmP)
proyek PES di Cidanau. (sumber gambar: http://goo.gl/x3HcmP)

Apakah kita perlu mempertimbangkan PES dalam manajemen konservasi?

Secara konseptual, skema PES cukup menarik karena sama-sama menguntungkan bagi pemilik lahan maupun pembeli. Pelaksanaan PES di DAS Cidanau pun menunjukkan hasil positif bagi petani di hulu dan perusahaan yang menjadi pembeli jasa tersebut. Misalnya terdapat peningkatan kualitas konservasi pertanian, berkurangnya praktik penebangan liar, peningkatan kualitas pertumbuhan tanaman, dan sebagainya. Kondisi ekonomi para petani pun bertambah, sehingga bisa membuat skema PES makin berkelanjutan.

Namun demikian terdapat sebuah masalah besar yang tak kunjung selesai di Indonesia, yaitu kepemilikan lahan atau tenurial. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat adat masih memiliki tanah secara de facto. Meskipun saat ini terdapat tanah ulayat yang merupakan hak dari suatu masyarakat adat.

Hal paling penting yang bisa kita persiapkan untuk melaksanakan skema PES adalah pengembangan kapasitas bagi para pemangku kepentingan. Bagi LSM sebagai pihak yang bisa menghubungkan masyarakat adat dengan para pembeli, pemerintah sebagai pemberi izin dan regulator, serta peningkatan informasi kepada para sektor privat.

 

Bibliography

Budhi, G. S., Kuswanto, S. & Iqbal, M., 2008. Concept and Implementation of PES Program in the Cidanau watershed: A Lesson Learned for Future Environmental Policy. Analisis Kebijakan Pertanian, VI(1), pp. 37-55.

Department for Environment Food & Rural Affairs, 2013. Payment for Ecosystem Services: A Best Practice Guide. London: Department for Environment Food & Rural Affairs.

Department for Environment Food and Rural Affairs (DEFRA), 2010. Payments for Ecosystem Services: a shor introduction. London: Defra.

Millenium Ecosystem Assessment, 2006. Ecosystems and Human Well-being: Synthesis. 1st ed. Washington DC: Island Press.

Tinch, R. 2009. Assessing Socio-economic Benefits of Natura 2000 – a Case Study on the ecosystem service provided by the SUSTAINABLE CATCHMENT MANAGEMENT PROGRAMME. Output of the project Financing Natura 2000: Cost estimate and benefits of Natura 2000 (Contract No.: 070307/2007/484403/MAR/B2). 28 pp. + Annexes.

United Utilities, 2014. SCaMP FAQs and useful facts. [Online]
Available at: http://corporate.unitedutilities.com/scamp-faqs.aspx
[Accessed 20 May 2014].

Wunder, S., 2005. Payment for Environmental Services: Some Nuts and Bolts. Bogor: Center for International Forestry Research.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s